Anemia pada Anak

Bukan hanya terjadi pada orang dewasa, ternyata anemia juga dapat menyerang anak kecil. Jika kondisi ini tidak segera ditangani dengan semestinya, maka bisa berdampak pada perkembangan, sistem imun, hingga perilaku si kecil. Oleh karena itu, sebagai orang tua yang baik, Anda perlu mengetahui seluk-beluk anemia pada anak sehingga bisa mencegahmya sebelum hal itu terjadi.

Mengenai Anemia
Anemia adalah salah satu jenis kelainan darah, yang biasanya terjadi bila kadar sel darah merah yang sehat dalam tubuh terlalu rendah. Kondisi ini bisa mengganggu kesehatan karena sel darah merah mengandung hemoglobin, senyawa protein yang membawa oksigen ke jaringan tubuh. Anemia bisa menyebabkan berbagai komplikasi termasuk stres dan sensasi lelah di tubuh. Bagi Anda yang sedang mengandung, alangkah baiknya mengetahui tentang anemia selama kehamilan demi mencegah hal-hal yang tidak diinginkan.

Anemia bisa disebabkan oleh berbagai faktor, tapi tiga mekanisme utama tubuh yang memicunya adalah:
– Kerusakan sel darah merah dalam jumlah besar
– Kehilangan darah yang cukup banyak
– Kekurangan produksi sel darah merah

Di antara berbagai penyebab di atas, anemia dapat terjadi karena kelainan kongenital/bawaan, masalah gizi (seperti kekurangan zat besi atau vitamin), infeksi, sebagian jenis kanker, atau paparan obat-obatan terlarang dan toksin.

Tanda dan Gejala Anemia pada Anak
Anak yang terserang anemia umumnya akan menunjukkan gejala awal seperti kulit pucat ringan dan warna pink pada bibir serta bantalan kuku yang memudar. Perubahan ini bisa terjadi secara bertahap meski jarang Anda sadari. Gejala umum anemia lainnya, diantaranya anak jadi rewel atau sering menangis, mudah kelelahan, pusing, sakit kepala, dan detak jantung cepat.

Apabila anemia disebabkan oleh kerusakan sel darah merah dalam jumlah besar, gejala yang mungkin dialami oleh penderita adalah bola mata menguning, penyakit kuning, pembesaran limpa, dan urine gelap seperti warna teh.

Pada anak-anak prasekolah maupun bayi sekalipun, anemia yang diakibatkan oleh kekurangan zat besi dapat menyebabkan keterlambatan perkembangan dan kelainan perilaku, seperti penurunan aktivitas motorik dan masalah interaksi sosial dan konsentrasi tugas yang terkait. Penelitian menunjukkan bahwa perkembangan anak akan terus terganggu sampai anak mencapai usia sekolah jika masalah kekurangan zat besi tidak segera ditangani.

Deteksi Anemia pada Anak
Dari berbagai kasus, dokter tidak akan segera mendiagnosis anemia sebelum mereka melakukan tes darah sebagai bagian dari pemeriksaan fisik rutin. Jumlah darah lengkap dapat mendeteksi jumlah sel darah merah di bawah batas normal. Selain itu, tes diagnostik untuk mendeteksi anemia, meliputi:

– Pemeriksaan smear darah: Sampel darah ditempatkan pada kaca preparat untuk pemeriksaan mikroskopik sel darah merah, yang terkadang dapat mengindikasikan penyebab anemia.
– Tes besi: Tes ini mencakup uji besi serum dan tes feritin, yang dapat membantu menentukan apakah anemia disebabkan oleh kekurangan zat besi atau tidak.
– Elektroforesis hemoglobin: Tes yang digunakan untuk mengidentifikasi bermacam kelainan hemoglobin dalam darah dan untuk mendiagnosis anemia sel sabit, talasemia, dan bentuk turunan anemia lainnya.
– Aspirasi sumsum tulang dan biopsi: Tes ini dapat menentukan apakah produksi sel normal di sumsum tulang. Bahkan, tes tersebut merupakan satu-satunya cara untuk mendiagnosis anemia aplastik definitif dan juga digunakan jika penyakit sumsum tulang (seperti leukemia) benar-benar memicu anemia.
– Reticulocyte count: Tes ini digunakan untuk mengukur sel darah merah muda. Tujuan dari tes ini adalah untuk membantu menentukan tingkat normal produksi sel darah merah.

Selain tes di atas, dokter mungkin bertanya tentang riwayat keluarga Anda tentang anemia, gejala, dan obat yang pernah dikonsumsi oleh anak. Prosedur ini dapat membantu dokter dalam menentukan tes lain untuk mencari penyakit tertentu yang dapat menyebabkan anemia.

Pengobatan Anemia pada Anak
Pengobatan yang diberikan untuk anemia tergantung pada penyebabnya. Sebagai orang tua yang bijaksana, sebaiknya jangan terlalu tergesa-gesa menganggap bahwa gejala anak mungkin karena kekurangan zat besi. Periksa anak Anda ke dokter untuk mendapatkan hasil yang lebih akurat.

Jika anak Anda menderita anemia karena kekurangan zat besi, dokter mungkin meresepkan tetes (untuk bayi), sirup, atau tablet (untuk anak yang lebih tua), yang biasanya harus dilakukan selama 3 bulan untuk mengembalikan kadar zat besi dalam tubuh. Selain itu, dokter Anda mungkin menyarankan agar Anda memberi makanan kaya zat besi kepada anak Anda atau mengurangi asupan susu.

Bagi remaja yang mengalami anemia dan mengalami menstruasi yang berat atau tidak teratur, dokter mungkin meresepkan perawatan hormon untuk membantu mengatasi perdarahan. Pemberian suplemen asam folat dan vitamin B12 dapat direkomendasikan jika anemia disebabkan oleh kekurangan gizi, walaupun kasus ini jarang terjadi pada anak-anak.

Anemia yang disebabkan oleh infeksi biasanya akan membaik saat infeksi diobati atau sembuh. Jika obat-obatan tertentu dicurigai sebagai penyebab anemia, dokter dapat menghentikan atau mengganti pengobatan, kecuali jika manfaat obat lebih banyak daripada efek samping ini.

Bergantung pada penyebabnya, pengobatan untuk anemia kronis adalah:
– Transfusi sel darah merah dari donor
– Pengangkatan limpa atau pemberian obat untuk mencegah sel darah hilang atau hancur terlalu cepat
– Memberikan obat untuk melawan infeksi atau merangsang sumsum tulang untuk membuat lebih banyak sel darah. Dalam beberapa kasus seperti anemia sel sabit, talasemia, dan anemia aplastik, transplantasi sumsum tulang dapat dilakukan. Dalam prosedur ini, sel sumsum tulang yang diambil dari donor akan disuntikkan ke dalam pembuluh darah anak, dimana sel-sel ini memasuki aliran darah ke sumsum tulang dan mulai memproduksi sel darah baru.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

1 × one =

%d bloggers like this: