Mengenal Difteri pada Anak

Pada kesempatan kali ini, kami akan mengajak Anda untuk lebih mengenal difteri pada anak, dimana penyakit ini cukup berbahaya yang sifatnya sangat mudah menular, bahkan bisa berakibat fatal hingga berujung kematian. Umumnya, difteri menyerang balita dan anak-anak di rentang usia 1-9 tahun, tetapi ada pula beberapa kasus yang bisa terjadi pada bayi, remaja, dan orang dewasa.

Apa itu Difteri
Difteri merupakan penyakit yang timbul dari infeksi bakteri yang umumnya menyerang selaput lendir hidung dan tenggorokan, bahkan terkadang dapat mempengaruhi kulit. Penyakit ini sangat menular dan termasuk infeksi serius yang berpotensi mengancam jiwa.

Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), ada 7.097 kasus difteri yang dilaporkan di seluruh dunia pada tahun 2016 lalu. Di antara angka tersebut, Indonesia menyumbang 342 kasus. Sejak 2011, kejadian luar biasa (KLB) untuk kasus ini sudah menjadi masalah di Tanah Air. Tercatat 3.353 kasus difteri tercatat dari tahun 2011 sampai 2016 dan jumlah ini menempatkan Indonesia di urutan kedua setelah India dengan jumlah kasus difteri terbesar.

Difteri merupakan penyakit yang dapat dicegah kedatangannya dengan imunisasi difteri, yang termasuk ke dalam program imunisasi wajib di Indonesia. Imunisasi ini dikombinasikan dengan pertusis (batuk rejan) dan tetanus, sehingga disebut vaksin DPT. Sebelum usia 1 tahun, anak diwajibkan untuk mendapatkan tiga kali imunisasi DPT. Pada tahun 2016 lalu, golongan anak yang mendapat imunisasi DPT hingga tiga kali di Indonesia berjumlah 84%. Jumlahnya menurun bila dibandingkan dengan cakupan DPT pertama, yaitu 90%.

Gejala Difteri
Sebelum adanya gejala-gejala, biasanya difteri mempunyai jangka waktu tertentu sejak bakteri masuk ke tubuh hingga gejala muncul dua sampai lima hari. Gejala penyakitnya meliputi:
– Pembentukan lapisan tipis abu-abu yang menutupi tenggorokan dan amandel.
– Demam dan menggigil
– Sakit tenggorokan dan serak.
– Sulit bernapas atau bernafas cepat.
– Kalenjar getah bening di leher membengkak.
– Lemas dan capek
– Pilek. Awalnya cair, tapi berangsur-angsur menjadi kental dan terkadang bercampur darah.

Difteri juga terkadang bisa menyerang kulit dan menyebabkan bisul atau ulkus, yang akan sembuh dalam beberapa bulan, namun biasanya bekas tidak hilang pada kulit. Segera konsultasikan ke dokter jika anak Anda menunjukkan gejala di atas. Penyakit ini harus cepat-cepat diobati untuk mencegah komplikasi.

Terkadang, difteri mungkin tidak menunjukkan gejala sehingga penderitanya tidak menyadari bahwa dia terinfeksi. Apabila tidak diobati segera, anak penderita difteri dapat menularkan penyakit ini ke orang-orang di sekitar mereka, khususnya yang belum diimunisasi.

Penyebab Difteri
Difteri disebabkan oleh bakteri Corynebacterium diphtheriae. Penyebaran bakteri ini bisa terjadi dengan mudah, khususnya bagi orang yang tidak mendapat vaksin difteri. Terdapat beberapa cara penularan yang perlu diperhatikan, seperti:
– Percikan ludah di udara saat penderita difteri batuk atau bersin. Hal ini menjadi cara penularan difteri yang paling umum.
– Item yang telah terkontaminasi oleh bakteri difteri, misalnya mainan atau handuk.
– Sentuhan langsung pada luka ulkus (borok) karena difteri di kulit pasien. Penularan umum terjadi pada orang-orang yang tinggal di lingkungan padat penduduk dan kebersihannya tidak terjaga.

Bakteri difteri akan menghasilkan toksin atau racun yang akan membunuh sel sehat di tenggorokan, sehingga akhirnya menjadi sel mati. Sel-sel mati ini akan membentuk selaput abu-abu di tenggorokan. Lebih parahnya lagi, racun tersebut juga berpotensi menyebar luas ke aliran darah dan merusak jantung, ginjal, dan sistem saraf.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

12 − five =

%d bloggers like this: