5 Faktor Penyebab Anak Jadi Pengadu

Perilaku anak yang sering mengadu menjadi hal yang umum ditemukan oleh para orang tua, namun ketahui ada 5 faktor penyebab anak jadi pengadu yang harus Anda segera atasi sehingga anak tidak menjadi sosok yang lemah dilingkungannya. Agar tidak keliru, sebelum bereaksi sebaiknya Mimi harus terlebih dahulu mencerna cerita anak dengan tenang. Mungkin karena keterbatasan cara berpikir dan komunikasinya, bisa jadi apa yang dikatakan anak tidak separah yang dibayangkan Anda.

Pada artikel ini Anda dapat mengetahui:
– 5 faktor penyebab anak jadi pengadu
– Cara mengatasi anak pengadu

Berikut 5 faktor penyebab anak jadi pengadu antara lain:

Mencari Perhatian
Saat anak sedang berada dalam periode pengenalan diri, pastinya dia ingin orang lain mengenalnya. Menurut si kecil, ketika dia mengeluh, Anda segera akan mendengarkannya. Bahkan langsung membela dan menyalahkan orang yang dijadikan aduannya. Tidak masalah apakah anak Anda merasa disakiti atau tidak. Baginya, ia memiliki pengalaman bahwa Anda segera memberikan perhatian lebih ketika dia mengadukan sesuatu. Ini juga bisa dikatakan bahwa anak Anda merupakan sosok yang sensitif dalam urusan perasaan.

Anda pun dapat membaca artikel kami sebelumnya tentang tips mengatasi anak yang sensitif, sehingga anak bisa mengontrol perasaannya. Anda dapat mengatasinya dengan menahan diri Anda terlebih dulu agar tidak langsung untuk bergegas ke orang yang diadukannya. Terima apa yang diadukan anak Anda, lalu ajak anak Anda untuk pergi ke subjek tersebut, tanpa ekspresi atau nada suara yang marah.

Manipulatif
Terkadang anak memiliki sisi jahilnya. Misalnya ketika dia marah atau tidak menyukai seseorang, dia mencari korban untuk dilaporkan (diadukan) kepada Anda atau orang yang memiliki otoritas tinggi menurut si kecil. Sehingga dia memanipulasi situasi sehingga Anda memarahi orang yang tidak ia sukai. Ini adalah bentuk aduan yang salah, karena ada unsur-unsur yang merugikan orang lain.

Akan tetapi Anda dapat mengatasinya dengan, meminta orang-orang di sekitar anak untuk menerima dirinya. Artinya tidak mengucilkan atau mengolok-olok si anak. Bisa jadi aduan dengan faktor manipulasi ini karena anak tidak diterima oleh lingkungan sekitarnya.

Minta Bantuan
Ini adalah salah satu alasan positif anak Anda mengadu. Dikutip dari Nova.id, pada dasarnya mengadu dilakukan bila anak ingin meminta bantuan orang lain untuk menyelesaikan masalah yang dihadapinya. Mungkin saja dia merasa ditolak saat mengajak temannya untuk bermain bersama. Selain itu, anak Anda berada dalam tahap mulai tertarik dengan teman sebaya dan memiliki dorongan kuat untuk melakukan kontak dengan mereka. Namun, dia masih canggung untuk berteman.

Cara mengatasinya dengan mendorong anak Anda untuk memecahkan masalah. Tanyakan apa yang dia pikirkan untuk memecahkan masalah. Anda tidak perlu langsung memberikannya solusi sehingga ia akan berlatih berbicara dan belajar memecahkan masalah.

Bentuk Protes
Hal ini diarahkan pada sisi protes terhadap pelanggaran yang dilakukan oleh orang lain. Anak sudah mulai memahami aturan-aturan sederhana. Seperti contoh membuang sampah di tempat sampah atau menyimpan barang bekas. Sehingga ketika anak Anda melihat ayahnya membuang sampah ke jalan atau tidak merapikan koran setelah membacanya, dia segera mengadu kepada Anda. Karena anak Anda juga ingin orang lain mengikuti aturan seperti yang dilakukannya. Untuk itu berikan dukungan langsung sebagai tanda bahwa Anda setuju dengan apa yang dikatakannya. Kemudian ajak anak Anda untuk mendekati ayahya (dalam contoh ini) dan minta anak Anda untuk mengingatkan untuk itu tidak mengulanginya karena hal itu tidak benar.

Meniru
Jangan lupakan istilah peniru ulung untuk anak seusia ini. Pandangannya tidak pernah keluar dari lingkungannya. Dia sibuk mengamati gerak-gerik orang dan siap untuk meniru. Bahkan seperti kalimat Anda, “Nanti Ibu kasih tahu Ayah, kalau kamu tidak mau makan!” Ini juga bisa ditirunya. Dalam hal ini penting untuk Anda mengintropeksi diri, baik Anda maupun anggota keluarga di rumah. Periksa kembali sikap dan perilaku semua orang selama ini, lalu hilangkan kebiasaan mengancam mengadukan perilaku anak kepada si Ayah, yang tampaknya memiliki otoritas lebih tinggi daripada Ibu.

Demikianlah 5 faktor penyebab anak jadi pengadu yang perlu Anda ketahui sehingga Anda dapat dengan bijak mengatasi kebiasaan anak yang seperti ini. Semoga bermanfaat.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

8 + 14 =

%d bloggers like this: