Atonia Uteri Saat Hamil

Loading...

Setiap wanita sepertinya perlu mengetahui istilah atonia uteri saat hamil sehingga nantinya tidak akan kaget kondisi ini menghampiri Anda kala ingin melahirkan. Perlu diketahui, atonia uteri ialah kondisi dimana wanita hamil gagal berkontraksi setelah persalinan bayi. Kondisi ini bisa mengakibatkan pendarahan hebat pasca persalinan yang bisa membahayakan nyawa.

Setelah sebelumnya, Anda telah mengetahui apa perbedaannya antara kontraksi palsu vs asli, maka Anda perlu mengetahui atonia uteri yang bersangkutan dengan kontraksi. Setelah melahirkan, demi mencegah pendarahan, biasanya terjadi kontraksi untuk membantu dalam menekan pembuluh darah yang sedang menempel di plasenta.

Otot-otot rahim pun ikut berkontraksi dan menegang demi mengeluarkan plasenta. Apabila otot rahim tidak cukup kuat melakukan kontraksi, maka akan terjadi pendarahan. Keadaan ini membutuhkan penanganan darurat untuk menghentikan pendarahan dan mengganti darah yang hilang.

Apa itu Atonia Uteri dan Risikonya?
Atonia uteri atau bahasa lainnya kegagalan rahim untuk berkontraksi ialah penyebab utama perdarahan pasca persalinan. Sedangkan pendarahan pasca persalinan adalah salah satu faktor penyebab kematian ibu. Atonia uteri bisa memicu perdarahan pasca persalinan dengan karakteristik seperti peningkatan denyut jantung, penurunan tekanan darah, perdarahan tinggi, dan nyeri punggung.

Kasus perdarahan pasca persalinan tersebut masih tinggi di negara berkembang dengan penyebab yang tidak menentu secara pasti. Namun, ada beberapa faktor yang diduga mengganggu kemampuan otot rahim berkontraksi, yaitu:
– Persalinan yang sangat cepat atau sebaliknya
– Persalinan dengan induksi
– Penggunaan anestesi umum, oksitosin, atau obat lain dalam persalinan.
– Rahim terlalu renggang karena besarnya kehamilan.

Meski bisa dialami oleh siapa saja, namun beberapa wanita berisiko tinggi mengalami atonia uteri, terutama mereka yang hamil berusia di atas 35 tahun, hamil bayi kembar, mengandung bayi lebih besar dari rata-rata (makrosomia), mengalami obesitas, telah melewati beberapa kali persalinan, riwayat persalinan macet, dan memiliki terlalu banyak cairan amnion. Selain kelelahan, anemia, dan hipotensi ortostatik, atonia uteri juga bisa menyebabkan komplikasi syok karena kurangnya volume darah, yang bisa mengancam nyawa.

Antisipasi dan Penanganan Atonia Uteri
Atonia uteri lebih susah untuk diprediksi daripada penyebab pendarahan lainnya seperti kelainan pada plasenta, dan hanya bisa terdeteksi segera setelah melahirkan. Atonia uteri adalah kondisi serius yang perlu ditangani dan evaluasi yang ketat di rumah sakit.

Untuk mendapatkan persalinan yang aman, ibu hamil memerlukan pemeriksaan kehamilan berkala dan persalinan dengan bantuan tenaga medis yang terampil. Pada saat persalinan, dokter atau bidan akan melakukan pemeriksaan untuk mengetahui apakah masih ada plasenta yang tertinggal di rahim dan untuk mengevaluasi apakah penyebab perdarahan lain dapat diantisipasi atau tidak.

Langkah penanganan atonia uteri meliputi:
– Infus dan transfusi darah sesegera mungkin untuk menghentikan perdarahan dan mengganti kehilangan darah, dan observasi ketat oleh petugas medis.
– Memberi obat perangsang kontraksi uterus seperti oksitosin, prostaglandin, dan methylergonovine selama persalinan memasuki fase pengeluaran plasenta. Pemberian stimulan uterus bisa diikuti dengan pemijatan uterus.
– Jika langkah lain tidak berhasil, dokter mungkin melakukan embolisasi pada pembuluh darah rahim dengan menyuntikkan zat tertentu untuk menghalangi aliran darah ke rahim, atau melakukan operasi untuk mengikat pembuluh darah rahim.
– Jika semua upaya telah dilakukan namun tetap tidak bisa mengatasi pendarahan akibat atonia uteri ini, maka terpaksa perlu dilakukan operasi pengangkatan rahim.

Atonia uteri tidak selalu bisa dicegah. Jika Anda memiliki satu atau lebih faktor risiko di atas, maka sebaiknya segera berkonsultasi kehamilan Anda ke dokter. Mengkonsumsi suplemen kehamilan rutin juga dapat membantu mencegah anemia dan komplikasi atonia uteri, yaitu perdarahan pasca persalinan.

Loading...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

one × three =

%d bloggers like this: