Jenis Pendarahan Saat Hamil

Loading...

Seorang wanita hamil harus lebih waspada dengan apa yang terjadi pada dirinya dan janin di dalam kandungannya. Hal ini dikarenakan banyak sekali kondisi-kondisi yang mengancam pada kehamilan. Salah satu hal yang perlu dihindari adalah pendarahan. Pendarahan pada masa kehamilan memang menimbulkan kepanikan bagi para ibu, terutama jika baru mengandung anak pertama. Maka dari itu, sebaiknya wanita harus mengetahui lebih dalam tentang jenis pendarahan saat hamil sehingga nantinya bisa langsung diatasi.

Jenis Pendarahan Saat Hamil

Kondisi pendarahan ini umumnya terjadi pada kehamilan mudah, sekitar 1 hingga 3 bulan atau trimester pertama. Hal ini sangat perlu diperhatikan sebab kondisi janin yang berada dalam kandungan masih begitu sensitif. Berbagai faktor yang menyebabkan pendarahan saat hamil pun bermacam-macam sehingga Anda harus lebih berhati-hati.

Jenis Pendarahan Saat Hamil
Sebenarnya, pendarahan belum tentu menjadi gejala keguguran, namun hal itu perlu diperhatikan. Oleh karena itu, kenali jenis pendarahan yang berbeda seperti di bawah ini:

1. Abortus Iminiens
Pendarahan jenis ini terjadi ketika dimana embrio masih utuh di dalam rahim. Umumnya terjadi pada usia 1-2 minggu setelah proses pembuahan terjadi. Kondisi ini dapat mengakibatkan keluarnya sedikit darah, namun tidak ada yang perlu dikhawatirkan sebab ini ialah hal wajar ketika wanita hamil dan embrio pun masih tergolong aman berada dalam rahim. Abortus iminiens ini biasanya terjadi selama 1-2 hari saja.

2. Abortus Insipiens
Pada abortus insipiens ini, wanita hamil akan mengalami pendarahan yang lebih banyak dibandingkan abortus iminiens. Karena, sudah terjadi saat pembukaan rahim, dan kala itu juga, sang ibu akan mengalami sakit perut atau rasa mulas. Meski demikian, kondisi embrio masih utuh berada di dalam rahim.

3. Abortus Inkomplit
Pada dasarnya, Albortus inkomplit ditandai dengan pendarahan yang banyak dan disertai dengan kontraksi rahim yang memicu nyeri pada bagian perut yang seringkali bisa mengakibatkan syok atau kekagetan pada wanita hamil yang mengalaminya. Kondisi ini, embrio telah keluar dari rahim namun sebagian masih berada di dalam atau bisa juga tertinggal di dalam rahim.

4. Abortus Ektopik
Istilah ini diartikan dengan kehamilan yang berada di luar kandungan, dan bisa terjadi karena proses pembuahan yang menempel pada tuba falopi atau tidak berada di tempat yang seharusnya yakni di dalam rahim. Oleh sebab itu, abortus ektopik menjadi sangat mengancam dan harus dilakukannya operasi. Namun kemungkinan terjadi abortus ektopik sangatlah sedikit, tercatat hal ini terjadi sekitar 1-2% pada saat kehamilan.

Pendarahan dapat terjadi kapan saja pada wanita hamil. Oleh sebab itu, ibu harus tahu dan lebih waspada terhadap janin di dalam kandungannya dengan cara mengenali kondisi kehamilan dan ketahui tanda-tanda apabila ada kejanggalan pada kehamilan.

Loading...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

twenty − 15 =

%d bloggers like this: