Mengenai Vaksin DBD

Loading...

Setiap tahunnya, DBD atau Demam Berdarah Dengue hampir selalu mewabah dan memakan korban jiwa, baik orang dewasa sampai anak kecil. Hingga September 2016, tercatat lebih dari 160 ribu kasus DBD di Indonesia dan mengalami peningkatan sebesar 17 persen dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Namun sekarang, masyarakat Indonesia dapat sedikit lega sejak vaksin DBD pertama di dunia sudah masuk ke Indonesia. Vaksin DBD ini diperuntukkan khusus bagi mereka yang berumur 9 hingga 16 tahun.

Mengenai Vaksin DBD

WHO selaku Badan Kesehatan Dunia sudah menyetujui penggunaan vaksin demam berdarah untuk pertama kalinya di dunia melalui program vaksinasi DBD negara Filipina pada bulan April 2016 lalu. Selang 5 bulan kemudian, divisi vaksin dari Sanofi pun mengumumkan bahwa BPOM RI juga sudah menyetujui Dengvaxia yaitu vaksin dengue tetravalen untuk melindungi individu yang tinggal di daerah endemik terhadap keempat jenis dengue. Baca juga: Fase Penyakit Demam Berdarah Pada Anak

Namun sebelumnya, meskipun vaksin DBD sudah tersebar luas di Indonesia, benarkah semua orang itu membutuhkan vaksin DBD supaya terhindar dari penyakit yang mematikan itu?

Dikutip dari studi yang ditulis dalam New England Journal of Medicine, vaksinasi yang melibatkan anak usia 9 hingga 16 tahun bisa mengurangi resiko tertular demam berdarah sampai 65,6 %. Hal tersebut juga dapat mencegah tingginya kasus DBD yang dirawat di rumah sakit hingga 80 % dan kasus DBD yang berat sampai 93 %.

Dengan angka resiko tertular DBD yang cukup tinggi pun membuat masyarakat ingin mendapatkan vaksinasi Dengvaxia supaya tak tertular penyakit yang dibawa oleh nyamuk Aedes Albopictus atau Aedes Aegypti. WHO juga merekomendasikan agar negara-negara mempertimbangkan pengenalan vaksin Dengvaxia hanya pada wilayah yang rentan terkena penyakit demam berdarah.

Selain itu, WHO pun telah menyebutkan perwakilan dari Sanofi Pasteur selaku produsen Dengvaxia, telah memberikan presentasi di depan para ahli WHO yang memaparkan percobaan DBD Fase III yang dilakukan 4 tahun setelah percobaan pemberian dosis pertama. Presentasi itu membuktikan bahwa tidak ditemukannya peningkatan yang konsisten dalam resiko di rawat di rumah sakit atau demam berdarah parah pada anak yang divaksinasi umur 9-16 tahun.

Walaupun demikian pada kelompok umur yang lebih muda yakni 2-8 tahun terdapat peningkatan resiko yang tidak signifikan dan ternyata menurun setelah 3 tahun sejak pemberian dosis pertama. Oleh sebab itu, Dengvaxia tidak diizinkan untuk anak-anak yang berumur kurang dari 9 tahun. Kemudian, vaksin dengue yang saat ini beredar belum tentu memberikan kekebalan yang efektif pada anak di bawah 9 tahun. Vaksin dengue ini juga belum masuk program vaksinasi nasional sehingga pemberian vaksin masih dilakukan secara mandiri sebab harganya cukup mahal.

Loading...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

7 − six =

%d bloggers like this: