Mengenal Lebih Dekat Tentang Virus Rubella

Loading...

Virus rubella sering dikenal dengan nama campak jerman, penyakit yang disebabkan oleh virus ini sangat mudah menyebar, penularannya bisa melalui batuk atau bersin si penderita. Jika berbagi makanan dan juga minuman dengan penderita juga bisa menyebabkan tertularnya virus tersebut. Rubella menjadi salah satu jenis penyakit yang ditandai dengan bercak merah pada kulit bayi.

Mengenal Lebih Dekat Tentang Virus Rubella

Rubella pada Kehamilan
Rubella pada kehamilan sangatlah berbahaya dan bisa menyebabkan kematian janin. Memang tanda-tanda ruam merah pada kulit penderita sering disalah artikan sebagai penyakit campak. Pada wanita yang sedang hamil rubella bisa menyebabkan sindrom rubella kongenital atau bahkan kematian bayi dalam kandungan. WHO memperkirakan tiap tahun terdapat sekitar seratus ribu bayi di dunia yang terlahir dengan sindrom ini. Penyakit ini juga bisa menyebabkan bayi dengan cacat lahir seperti katarak, kerusakan organ, tuli, penyakit jantung, hipertiroidisme, hipotiroidisme, dan juga pembengkakan otak juga dapat berkembang pada anak yang terlahir dengan sindrom ini.

Gejala-gejala Rubella
Pada wanita hamil, gejala yang ditimbulkan oleh virus ini sangat beragam contohnya seperti ruam-ruam kemerahan, terutama di bagian wajah, lengan dan juga kulit kepala. Itu sebabnya infeksi rubella disebut juga sebagai campak Jerman, karena ruam kulitnya mirip seperti layaknya campak. Ruam-ruam ini tidak akan berlangsung lama, 2-4 hari saja sudah hilang dengan sendirinya. Kemudian diikuti dengan pembengkakan kelenjar limpa di bagian belakang leher, yang disertai rasa kaku dan nyeri pada persendian. Penyakit ini umumnya membutuhkan waktu sekitar 14-20 hari sejak sampai menimbulkan gejala. Berikut in adalah gejala-gejala umum rubella yang baisanya terjadi:

  • Demam.
  • Hidung tersumbat atau beringus.
  • Sakit kepala.
  • Tidak nafsu makan dan mual.
  • Pembengkakan kelenjar limfa pada telinga dan leher.
  • Iritasi ringan pada mata.

Proses Diagnosis Rubella
Ruam kemerahan akibat rubella memiliki karakter yang mirip dengan ruam-ruam lain. Guna memastikan diagnosis, dokter biasanya mengambil sampel dari air liur atau darah untuk diperiksa di laboratorium. Tes tersebut digunakan untuk mendeteksi adanya antibodi rubella. Jika terdapat antibodi IgM, berarti Anda memang mengidap virus ini. Sedangkan keberadaan antibodi IgG berarti Anda sudah pernah mengidap rubella atau sudah pernah menerima vaksinasi.

Pemeriksaan rubella juga bisa dimasukkan dalam tes prenatal untuk Anda yang ingin hamil, khususnya untuk yang berisiko tinggi. Pemeriksaan ini dilakukan melalui tes darah. Jika wanita hamil didiagnosis mengidap virus rubella, pemeriksaan lanjutan yang mungkin dianjurkan adalah USG dan amniosentesis. Amniosentesis ditujukan untuk prosedur pengambilan dan analisis sampel cairan ketuban untuk mendeteksi kelainan pada janin yang sedang dikandung.

Langkah Penanganan Rubella
Virus rubella tidak membutuhkan penanganan medis khusus dari dokter. Penanganan dapat dilakukan di tempat tinggal dengan langkah-langkah sederhana. Tujuannya adalah untuk meringankan gejala dan bukan mempercepat penyembuhan rubella. Berikut ini adalah beberapa langkah sederhana yang dapat dilakukan sebagai langkah penanganan virus rubella :

  • Beristirahatlah sebanyak mungkin.
  • Mengkonsumsi banyak air putih untuk mencegah dehidrasi.
  • Mengurangi nyeri dan demam. Penderita dapat mengonsumsi parasetamol atau bisa juga dengan ibuprofen untuk menurunkan panas dan meredakan nyeri pada sendi.
  • Minum air hangat bercampur madu dan lemon untuk meredakan sakit tenggorokan dan hidung berlendir.

Pencegahan Rubella
Pencegahan rubella yang paling efektif adalah dengan melakukan vaksinasi, terutama untuk wanita yang sedang dalam proses untuk hamil. Sekitar 85 persen orang yang menerima vaksin ini akan terhindar dari rubella. Pencegahan rubella tergabung dalam vaksin yang juga kombinasi MMR yang juga mencegah campak dan juga penyakit gondong. Vaksin ini termasuk dalam daftar imunisasi wajib bagi anak dan balita di Indonesia. Umumnya diberikan saat anak berusia 1 tahun tiga bulan dan diulangi saat anak berusia 6 tahun.
Wanita yang merencanakan kehamilan juga dianjurkan memeriksakan diri melalui tes darah. Jika hasil tes menunjukkan bahwa seorang wanita belum mempunyai kekebalan terhadap rubella, dokter akan menganjurkannya untuk menerima vaksin MMR. Setelah itu, dia harus menunggu minimal beberapa minggu untuk hamil. Penting untuk Anda ingat bahwa vaksinasi ini tidak boleh dijalani saat sedang hamil.

Loading...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

seven − 5 =

%d bloggers like this: