Tentang Sakit Malaria Pada Anak Indonesia

Lebih kurang 50% populasi Indonesia berisiko terinfeksi malaria, terlebih di daerah pedesaan yang miskin. Daerah yang terutama berisiko yaitu diluar pulau Jawa, khususnya sisi timur Indonesia, dari Nusa Tenggara Timur ke Maluku serta Papua. Di Sumatra, Kalimantan, serta Sulawesi level transmisinya masuk dalam tingkat menengah.

Tentang Sakit Malaria Pada Anak Indonesia

Keseluruhan masalah malaria yang didiagnosis secara klinis pada tahun 2007 yaitu kurang lebih 1. 774. 845, tahun 2008 1. 624. 930, serta tahun 2009 1. 462. 437. Sedang keseluruhan masalah malaria yang di konfirmasi dengan kontrol laboratorium pada tahun 2007 yaitu 311. 789, tahun 2008 266. 277, serta tahun 2009 199. 576.

Indonesia menargetkan bebas malaria pada tahun 2030. Tahun 2009, Kementerian Kesehatan dengan cara eksplisit menjadikan eliminasi malaria sebagian tujuan nasional yang bakal dikerjakan secara bertahap, dari satu pulau ke pulau yang lain.

Gejala
Anak dengan malaria alami tanda-tanda klinis seperti demam, muntah-muntah, sakit kepala serta gejala seperti flu. Apabila tak ditangani, infeksi ini bisa mengakibatkan kejang, koma serta kematian. Mereka yang selamat dari episode malaria berat bisa menderita gangguan belajar serta rusaknya otak. Infeksi berulang malaria bisa mengakibatkan anemia serta masalah perkembangan.

Ibu hamil serta janin yang dikandungnya menghadapi resiko spesifik lantaran bisa mengalami anemia maternal, infeksi plasenta, serta kelahiran bayi dengan berat tubuh lahir rendah yang merupakan aspek resiko paling besar pada minggu-minggu pertama kehidupan bayi.

Pencegahan
Pemakaian kelambu tempat tidur yang di beri insektisida pada ruang dengan transmisi tinggi bisa kurangi kematian anak dikarenakan malaria sampai 50%. Pada akhir tahun 2008, kurang dari 10% anak Indonesia di daerah endemik malaria tidur dengan perlindungan kelambu.

Sekarang ini belum ada vaksin berlisensi untuk mencegah malaria atau parasit lain. Sebuah vaksin penelitian untuk mencegah infeksi P. falciparum disebut RTS. S/A01 sekarang ini tengah dievaluasi dalam sebuah clinical trial di 7 negara di benua Afrika. Referensi pemakaian vaksin ini akan tergantung pada hasil riset yang diharapkan keluar pada tahun 2014.

Penyembuhan
World Health Organization (WHO) menyarankan bahwa semua masalah yang dicurigai malaria butuh di konfirmasi dengan kontrol diagnostik untuk mendeteksi terdapatnya parasit (dengan mikroskop atau rapid diagnostic test) saat sebelum pemberian therapy.

Di Indonesia, malaria resisten pada terapi dengan klorokuin serta sulfadoksin-pirimetamin. Therapy yang lebih efisien yaitu dengan artemisinin-containing combination therapy (ACTs) yang lebih mahal. Sejak tahun 2004, ACT sudah jadi therapy standard malaria di Indonesia. Therapy ini sebaiknya diberikan dalam 24 jam sesudah munculnya gejala.

Share Button

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

1 × 1 =