Bayi Ngempeng : Keuntungan & Kerugiannya

Ibarat koin yang memiliki 2 sisi, ternyata empeng atau pasifier pada bayi juga memiliki 2 sisi yang bisa diamati : kerugian dan keuntungan. Ada berbagai alasan mengapa bayi mengempeng, yang baik maupun yang buruk. Demikianlah, ahli, dokter, pakar dan orangtua memandang empeng secara pro-kontra. Ada yang setuju, tak sedikit yang menolaknya.

Bayi Ngempeng Keuntungan & Kerugiannya

Meski demikian, perlu diketahui bahwa pilihan bayi mengempeng atau tidak merupakan sifat dan karakteristik masing-masing. Meski bisa diarahkan, kebanyakan bayi akan mengempeng hanya jika ia menyukainya saja. Artinya, jika pada dasarnya bayi tidak suka mengempeng, maka memaksakan empeng biasanya tidak akan membuat bayi lantas mengempeng.

Alasan Menggunakan Empeng
Ada banyak alasan yang diberikan untuk ‘membenarkan’ empeng. Beberapa diantaranya yang cukup penting untuk diketahui adalah :
– Melindungi bayi dari SIDS (sindrom kematian mendadak). Untuk alasan ini, bahkan The American Academy of Pediatrics menyarankan orangtua memberikan empeng ketika tidur pada bayi hingga usia 1 tahun. Berikan empeng pada proses tidur dan lepas ketika bayi sudah tertidur lelap.
– Membuat bayi merasa nyaman. Empeng terbukti dapat meredakan tangisan pada bayi atau aktivitas merengek.
– Memenuhi kepuasan reflek menghisap. Kebanyakan bayi memiliki kebutuhan untuk menghisap secara alamiah. Biasanya kebutuhan ini dipenuhi dari botol susu atau puting ibu. Jika asupan susu sudah terlalu banyak tetapi nafsu menghisap tak juga reda, empeng merupakan solusi paling mudah untuk memenuhi kebutuhan tersebut.
– Lebih mudah dihentikan. Bayi yang mengempeng akan lebih mudah berhenti dibandingkan dengan bayi dengan kebiasaan menghisap jempol.

Alasan Tidak Menggunakan Empeng
Kalangan yang anti-empeng percaya bahwa empeng tidak dibutuhkan karena lebih banyak mendatangkan keburukan dibandingkan manfaatnya. Berikut beberapa alasan mengapa sebaiknya empeng dihindari :
– Beberapa studi meunjukkan empeng memberikan resiko 40% lebih besar bayi mengalami infeksi telinga.
– Empeng yang terlalu dini diberikan dapat membuat bayi mengalami kebingungan ketika membandingkannya dengan puting ibu. Untuk mengatasinya, empeng sebaiknya diberikan ketika bayi sudah melewati masa ASI (setidaknya 6 bulan) dan mulai makan.
– Empeng berpotensi merusak struktur & pertumbuhan gigi atau keterlambatan bicara, terlebih jika proses hisap dan durasi berlangsung dalam tempo tinggi. Kerusakan gigi dan masalah mulut pada masa mendatang bisa saja terjadi akibat empeng.

Kesimpulan
Sekali lagi, empeng atau tidak biasanya dipilih oleh bayi dengan sifat alami masing-masing. Jika Anda mendapatkan keuntungan empeng lebih banyak dibandingkan kerugian, maka memberikan empeng bisa menjadi keputusan bijaksana. Pada banyak kasus, empeng atau tidak bisa menjadi dua pilihan yang sama baiknya. Jike dibutuhkan, Anda sebaiknya memilih empeng yang berkualitas bagus, menjaga durasi penggunaannya sekaligus kebersihan dari empeng tersebut setiap saat.

Share Button

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

sixteen + eighteen =