Kebiasaan Isap Jempol Pada Bayi & Anak

Isap jempol merupakan salah satu perilaku dan kebiasaan normal yang terjadi pada bayi dan anak-anak. Insting menghisap tak jarang membuat bayi mengmeut jempolnya pada usia beberapa bulan, bahkan sebelum ia dilahirkan. Bayi bisa mengisap jempol. jari lain, tangan, empeng dan berbagai jenis benda untuk memenuhi insting menghisapnya.

kebiasaan isap jempol pada bayi

Mengapa Bayi Mengisap Jempol?
Tak hanya sekedar iseng atau mengisi waktu luang, bayi memiliki keinginan alami untuk menghisap, keinginan tersebut akan semakin hebat ketika usianya melampaui 6 bulan. Meski demikian, ada banyak sekali bayi yang meneruskan isap jempol untuk memuaskan dirinya sehingga pada akhirnya menjadi kebiasaan yang buruk. Aksi isap jempol dapat menjadi hal yang membuatnya nyaman ketika merasakan lapar, takut, mengantuk atau bosan. Kebanyakan bayi memiliki kebiasaan isap jempol hingga mencapai usia beberapa tahun. Pada umumnya, mereka akan berhenti sendiri ketika sudah berusia antara 3-6 tahun.

Isap Jempol Vs Empeng
Empeng atau pasifier merupakan sebuah inovasi yang dibuat guna memnuhi kebutuhan ‘menghisap’ pada bayi. Juga untuk meredakan konsumsi susu yang berlebihan, menidurkan dan membuat anak menjadi tenang. Empeng yang bersih dengan desain yang mutakhir tentu saja jauh lebih aman dibandingkan dengan mengisap jempol yang tidak dicuci setiap kali.

Tentu saja, empeng memiliki efek samping bagi gigi dan mulut anak jika dibandingkan dengan tidak mengempeng. Jika bayi mengempeng, usahakan agar kebiasaan tersebut dapat berhenti ketika ia mencapai usia 2-3 tahun. Batasi penggunaannya hanya pada beberapa kondisi saja, seperti ketika sedang mau tidur, naik pesawat terbang atau sesaat setelah minum susu. Empeng harus dihentikan secepat menghentikan pemberian susu melalui botol.

Apakah Mengisap Jempol Dapat Membuat Masalah?
Masalah paling umum yang terjadi pada bayi yang ‘hobi’ mengemut jempol adalah kesehatan dan pertumbuhan gigi. Isap jempol dapat menyebabkan gigi yang tidak tumbuh sempurna, miring akibat tekanan dan masalah lainnya. Kebanyakan, masalah gigi akan reda dengan sendirinya ketika kebiasaan isap jempol dihentikan.

Pada beberapa kasus, kebiasaan isap jempol yang terlalu ekstrim dan tidak ditangani dengan tepat dapat menyebabkan masalah pertumbuhan gigi yang lebih kompleks sehingga memerlukan treatmen ortodentik yang lebih khusus.

Selain itu, pada bayi dan anak yang memiliki kebiasaan mengisap jempol sering ditemui masalah pada pengucapan beberapa kata yang tidak tepat seperti ts, ds dan menjulurkan lidah ketika berbicara.

Menangani Isap Jempol
Tak semua bayi dan anak memiliki kebiasaan mengisap jempol. Dan tak semua bayi dan anak dengan kebiasaan isap jempol harus dihentikan secara serta-merta. Pada banyak kondisi, isap jempol bahkan memiliki lebih banyak manfaat dibandingkan keburukannya.

Namun demikian, tentu saja anak harus segera mengakhiri kebiasaan buruk tersebut ketika ia sudah mencapai usia yang lebih dewasa. Cara paling mudah menghentikan kebiasaan tersebut adalah dengan mengajak anak berkomunikasi secara intens. Memaksa tanpa memberikan penjelasan bukanlah jalan keluar yang baik. Selain mengembangkan kemampuan anak untuk memahami hal-hal yang buruk dan baik, mengentikan kebiasaan isap jempol dengan jalur komunikasi juga akan membuatnya lebih mengerti sehingga akan berhenti dengan kehendaknya sendiri.

Semoga bermanfaat!

Share Button

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

fifteen − thirteen =