4 Cara Melindungi Bayi Anda Dari Alergi Makanan

Telur, kacang, susu sapi & kedelai, adalah penyebab utama dari alergi makanan yang kerap terjadi pada bayi. Menurut hasil penelitian, 1 dari 18 bayi berusia kurang dari 3 tahun mengalami alergi makanan. Untuk melindungi buah hati tercinta dari alergi yang bisa saja menimpanya, berikut 4 tips yang dapat Anda lakukan :

1. Hindari makanan pemicu alergi. Diantaranya : putih telur, susu sapi, ikan, makanan laut, kacang dan lain sebagainya.
2. Ketahui Alergi Anda. Alergi secara umum diturunkan dari orantua ke anak. Jika Anda atau pasangan memiliki alergi pada makanan tertentu, kemungkinan bayi juga mengalaminya. Namun demikian, biasanya alergi akan berkurang jauh apabila bayi sudah mencapai usia 5 tahun.
3. ASI. Beberapa studi menunjukkan bahwa pemberian air susu ibu setidaknya selama 6 bulan dapat membentuk antibodi yang lebih kuat pada bayi sehingga bayi menjadi lebih kebal terhadap alergi. Tentu saja apabila didukung oleh latar belakang keluarga yang juga tidak memiliki alergi makanan yang parah. Satu hal yang tak kalah penting adalah alergi dapat ‘ditularkan’ melalui media ASI dimana ibu mengkonsumsi makanan yang memicu hal tersebut.
4. Lakukan percobaan. Bagaimana pun, ada banyak sekali nutrisi penting yang terkandung pada berbagai kenis makanan yang dikenal memicu alergi. Anda bisa melakukan percobaan untuk memberikan salah satu jenis makanan dengan porsi kecil dan mengamati reaksi bayi. Stop pemberian makanan apabila bayi mengalami satu atau lebih gejala selama kurun waktu 24 jam, meliputi : gatal, ruam kulit, muntah, mual, diare, sesak nafas, bentol-bentol pada kulit.

alergi makanan pada bayi

Seperti yang sudah disebutkan diatas, alergi makanan biasanya berlangsung hingga usia anak mencapai 5 tahun. Dengan demikian, bukan berarti bayi Anda tidak bisa mengkonsumsi makanan pemicu alergi seumur hidupnya.

Meski demikian, alergi makanan bukanlah hal yang bisa disepelehkan begitu saja. Untuk alergi yang parah dimana terjadi kondisi-kondisi yang sangat gawat seperti sesak nafas atau muntah hebat, orangtua sebaiknya segera membawa bayi ke unit darurat. Jika kondisi sudah tenang, lakukan konsultasi secara mendalam kepada dokter anak agar bayi mendapatkan saran pengobatan dan pencegahan seakurat mungkin.

Semoga bermanfaat.

Share Button

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

10 − eight =